• Wisata Bontang Lembah Permai Yang Makin Cantik

    SONNY LESMANA antusias melangkahkan kaki mengitari Lembah Permai. Kawasan wisata dan edukasi lingkungan yang dibangun di Kilometer 3, Loktuan. Berbagai wahana permainan disiapkan di lokasi itu. Lembah Permai, awalnya, dibangun untuk menunjang Perum Lembah Asri. Kompleks perumahan yang dia dirikan. Belakangan, Sonny memutuskan areal seluas 9 hektare itu akan dibuka untuk umum.

    Fasilitas seperti kolam renang, arena outbound, kolam yang berisi 5 ribu ikan koi, serta budi daya tanaman hortikultura, tersedia. “Pertengahan tahun ini, rencana kami launching. Sementara kami selesaikan perizinannya,” kata Sonny.

    Sonny mengonsep Lembah Permai tidak hanya memandang dari segi bisnis. Walau dalam pembangunannya, dia harus merogoh kocek cukup dalam. Terpenting, bagi dia, bisa membuat orang lain bahagia. “Saya percaya kalau bisa membuat orang senang, gembira, maka rezeki datang sendiri,” tuturnya.

    Tak jauh dari sana, pria 63 tahun itu berencana membangun wihara. Dia mengatakan sudah menghibahkan lahan. “Tapi masih terbentur aturan, karena masuk dalam RTH (ruang terbuka hijau), bukan tempat ibadah,” terangnya.

    Anak kedelapan dari 12 bersaudara itu optimistis bisa merealisasikannya pada tahun ini. Terlebih, kehadiran wihara dirasa sangat penting. Sonny mengungkapkan, memang tidak semua etnis Tionghoa beragama Buddha. Namun, rata-rata dari mereka membutuhkan rumah ibadah. Di antaranya, umat Khonghucu yang memerlukan kelenteng.

    Sejak dicabutnya peraturan dua menteri, terang dia, sudah tidak ada lagi syarat jumlah penganut untuk mendirikan rumah ibadah. Sebelumnya, hal itulah yang menjadi adangan untuk mendirikan wihara ataupun kelenteng.

    “Di Bontang etnis Tionghoa hanya 125 kepala keluarga. Tidak lebih dari 80 orang atau 25 kepala keluarga Buddha. Sisanya Islam, Kristen, Hindu, dan Khonghucu,” jelasnya.

    Dia juga menyambut baik wacana Pemkot Bontang membangun wisata religi yang berisi rumah ibadah enam agama yang diakui di Indonesia. “Kalau pemkot bangun lebih bagus lagi, tapi kami tetap usahakan agar membangun juga,” ujarnya.

    Sebagian besar warga Tionghoa di Bontang berwirausaha atau menjadi karyawan perusahaan. “Mau jadi PNS, sulit,” selorohnya.

    Dia yakin, sebenarnya, jumlah etnis Tionghoa lebih banyak dari data yang ada. Pasalnya, tidak sedikit yang masih tidak mengaku dari keturunan, karena takut sulit mendapat pekerjaan. “Ada juga pendatang tapi tidak melapor,” jelasnya.

    PERAYAAN SEDERHANA

    Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perayaan Imlek di Bontang tampaknya tidak terlalu meriah. Kondisi ekonomi yang lesu menjadi alasannya. Terlebih, dengan maraknya isu SARA yang belakangan ini kerap terjadi. “Kami takut dibilang pamer,” tutur penasihat Paguyuban Keluarga Tionghoa (Paket) Bontang itu, tersenyum.

    Dalam kesempatan itu, Sonny menjelaskan awal berdirinya Paket. Paguyuban itu didirikan pada 1998. Saat itu, banyak warga Tionghoa yang memerlukan pertolongan. “Jadi, kami ingin mengakomodasi sesama. Sama-sama mengalami kesulitan,” tuturnya.

    Namun, atraksi barongsai tetap akan ditampilkan saat perayaan Cap Go Meh. Nantinya, mereka berkeliling Bontang. Mendatangi rumah-rumah warga. Tidak hanya Tionghoa. “Barongsai itu simbolis untuk doa. Untuk tolak bala. Jadi, siapa saja yang mau didatangi, kami bersedia,” ungkapnya.

    Sonny mengatakan, anggota barongsai memang tak hanya dari kalangan Tionghoa. Ada pula yang muslim. “Kami terbuka,” tegasnya.