• Wacanakan Hotel Sediakan Kondom, Untuk Cegah HIV/AIDS

    Homestay Bontang Mbakdesi.com
    Wacana penyediaan alat kontrasepsi di hotel-hotel memang selalu menuai kontroversi. Kendati demikian, wacana tersebut kembali mengemuka. Dilontarkan oleh Kabid Pelayanan Medis RS Grhsia Pakem Akhmad Akhadi.

    Pertimbangannya, melihat tren peningkatan kasus HIV/AIDS selama 2015-2016 yang mencapai lebih dari seratus persen. Data Dinas Kesehatan DIJ menyebutkan, pada 2015 tercatat 262 kasus HIV dan 92 AIDS. Angka kasus meningkat tajam di 2016 menjadi 662 terinfeksi HIV dan 313 AIDS.

    Akhadi mengatakan, kondom dinilai masih efektif mencegah penularan HIV/AIDS, meskipun banyak orang yang meragukan. “Hingga saat ini, kondom masih menjadi salah satu media yang dapat mencegah berpindahnya virus HIV/AIDS saat hubungan seksual,” ujarnya kemarin (30/12).

    Di Papua Nugini, misalnya. Menurut Akhadi, negara yang berbatasan dengan Papua itu menjadi salah satu negara yang telah menyediakan kondom di setiap hotel. Bahkan, pembungkus kondom resmi bergambar bendera negara tersebut. Sebab, pemerintah disana menilai bahwa virus HIV/Aids sebagai penghabis atau pemusnah generasi.

    “Mereka menggunakan cara itu sebagai langkah pencegahan. Dan memandang perlu adanya penyediaan kondom di sektor wisata,” ucap Akhadi.

    Di sisi lain, hasil data yang dihimpun Dinas Kesehatan DIJ mengisyaratkan dua hal. Pertama, ada kemungkinan jumlah kasus memang bertambah. Kedua, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri.

    Ide menyediakan kondom di hotel-hotel itu sebatas salah satu upaya preventif penularan virus HIV/AIDS. Sebagaimana di Papua Nugini, sektor wisata di Indonesia, termasuk DIJ,

    dinilai berpotensi sebagai salah satu penyebaran HIV/AIDS. Apalagi, destinasi yang menyediakan paket wisata lengkap dengan penjaja seks. Hal ini sudah menjadi rahasia umum.

    Menanggapi ide tersebut, Wakil Gubernur DIJ Paku Alam (PA) X menyatakan, jika nantinya terealisasi, penyediaan kondom tak serta merta dilakukan secara fisik dan vulgar.

    Namun, berdasarkan permintaan. Konsumen bisa memesan dengan menghubungi pihak hotel. Hal itu agar tak menimbulkan gejolak dan persoalan lain. Apalagi sampai salah sasaran. Misalnya, diakses oleh anak-anak yang belum cukup umur. “Itu, kan masih wacana. Masih sebatas ide,” ujar PA X yang juga ketua Komisi Penanggulangan AIDS DIJ usai rapat evaluasi akhir tahun penanggulangan HIV/AIDS di Kompleks Kepatihan kemarin.

    Bahkan, lanjut PA X, sebagaian masyarakat DIJ masih menganggap tabu hal-hal seperti itu. Sehingga dianggap tak pantas dibicarakan. Kendati demikian, PA X tak ingin hal yang dianggap tabu tersebut justru menjadi bumerang bagi masyarakat. Terinfeksi virus akibat ketidaktahuan informasi tentang HIV/AIDS.(dya/yog/ong - radarjogja.co.id)