• Tentang Seseorang, yang Mengajarkan Bagaimana Caranya Melepaskan

    Teruntukmu yang nantinya membaca ini, aku tak ingin kamu beranggapan, bahwa aku menulis ini karena aku ingin memintamu untuk akhirnya memilihku. Aku sadar aku tak bisa memaksakan kehendak seseorang. Aku sadar bahwa seseorang berhak untuk memilih. Yang perlu kamu tahu bahwa aku menulis ini, karena hari ini tiba-tiba saja aku begitu merindukanmu.


    Tentang melepaskan, adakah yang lebih sakit dari melepaskan? Apalagi aku yang sudah terlalu besar berekspektasi dan pada akhirnya apa yang aku ekspektasikan tidak sejalan dengan apa yang terjadi. Sakit memang. Sedih pasti. Tapi aku tak pernah menyesali semua itu. Aku tak pernah protes. Karena aku tahu Tuhan tak sejahat itu. Dia tak mungkin mengambil sesuatu, kecuali menggantinya dengan yang lebih baik.


    Aku sudah suka dengan apa yang ada padamu dari awal kita bertemu.
    Kalau bukan karena kejadian itu, mungkin kita tidak akan bertemu sampai saat ini.  Aku masih ingat betul awal pertemuan kita dulu. Kala itu kita sama-sama menunggu bus ditengah cuaca yang dingin. Kamu menawarkan kopi hangat kepadaku, hanya saja saat itu aku menolaknya; padahal sebenarnya aku sedang benar benar kedinginan.

    Kamu pun mulai membuka topik dengan memperkenalkan dirimu. Lalu setelahnya kamu mulai menceritakan satu demi satu tentang siapa dirimu sebenarnya. Entah kenapa aku tak hentinya memperhatikanmu, saat kamu sedang asyiknya bercerita. Seperti ada sebuh atmosfer yang menarikku untuk terus menatapmu. Aku suka nada bicaramu, Aku suka caramu berkata. Aku suka semua yang ada padamu sejak detik itu.


    Semua kedekatan kita ini, semakin membuatku merasa nyaman. Aku ingin terus bersamamu.


    Sejak peristiwa itu kita terus berhubungan. Kata - kata manis, selalu  kamu lontarkan. Perhatian – perhatian yang tak hentinya kamu berikan membuatku merasa nyaman, meski itu hanya sekedar pesan pesan singkat yang kau kirim lewat ponselmu. Aku bahagia bisa mengenalmu lebih dekat. Aku bahagia bisa selalu menjadi orang pertama yang tahu keadaanmu. Kehadiranmu membuatku merasa berbeda. Entah kenapa aku ingin selalu bersamamu. Mungkinkah aku sudah benar-benar jatuh cinta?

    Aku mulai beranggapan, bahwa akulah orang yang pantas berada disampingmu.
    Lambat laun kita semakin dekat, dan kamu mulai berani menceritakan kisah kisahmu bersama masa lalumu. Aku mengerti akan kerinduanmu terhadap sosok yang dapat memberimu perhatian. Karena seseorang tidak mungkin mencurahkan isi hatinya selain kepada orang yang dianggapnya dekat.

    Munculah berbagai macam pertanyaan. Mungkinkah aku orang yang kamu anggap dekat itu? Mungkinkah pada akhirnya kamu akan memilihku untuk menjadi sosok yang pantas mengisi kekosonganmu? Entahlah, aku hanya bisa berharap semoga semua itu benar. Semoga memang akulah yang pantas.

    Dan ternyata akulah yang berimajinasi terlalu hebat.
    Waktu terus berputar. Aku masih diam disini, dan menunggumu sadar dengan arti semua perhatianku. Sosokmu yang tak dapat kuterka lama-lama membuatku pupus. Terkadang kamu membuatku merasa menjadi nomor satu. Terkadang juga kamu membuatku merasa seperti terlupakan.
    Aku ingin kamu mengerti bahwa ada perasaan lain yang aku rasakan terhadapmu. Perasaan yang lebih besar dari sekedar temanmu untuk berkeluh kesah. Aku ingin menjadi seseorang yang selalu kamu prioritaskan. Aku ingin jadi yang selalu dapat kau genggam. Sialnya,  aku berimajinasi terlalu hebat. Karena sepertinya kamu tidak sedikitpun merasakan setiap isyarat yang aku berikan.
    Mengapa tak utarakan saja dari awal, agar aku tidak perlu merasakan semua ini.
    Sebenarnya utarakan saja jika memang bukan aku. Utarakan bila semua yang aku rasakan selama ini salah. Bahwa benar jika aku bukanlah yang kamu anggap spesial. Supaya kita tidak sampai sejauh ini. Supaya aku tidak perlu merasakan pahitnya berharap dalam ketidakpastian.
    Tapi nyatanya, semua ini memang salahku. Aku yang menyimpulkan terlalu cepat.
    Sampai saat ini aku belum berani mengutarakan rasaku secara lebih. Aku takut jika akhirnya kamu menolak dengan semua yang telah aku perjuangkan. Cukup sakit berjuang sendiri. Jika nantinya memang bukan akulah jalanmu, aku tak akan memaksa. Aku akan turut bahagia jika kamu dapat menemukan kebahagiaanmu dengan sosok baru yang nantinya kau sebut dia kekasih. Karena dari awal memang semua salahku. Aku yang terlalu menganggapmu lebih. Aku yang terlalu bodoh terus memaksakan  harapanku agar kamu nantinya dapat benar-benar memilihku.
    Terimakasih telah hadir. Semoga aku tidak akan merindukanmu lagi setelah ini.
    Percayalah, aku tidak akan pernah sedikitpun membencimu. Karena darimu aku belajar tentang bagaimana cara melupakan, tentang bagaimana cara mengikhlaskan apa yang bukan untuk kita. Satu hal yang dapat aku petik, bahwa jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Karena terkadang apa yang kamu pikirkan tidak sejalan dengan apa yang Tuhan beri. Kini aku benar-benar akan belajar melepaskanmu.
    Melepaskanmu bersama seseorang yang kini sedang kugenggam tangannya, seseorang yang sangat paham betul dengan arti semua perhatianku. Seseorang yang tidak membiarkanku menunggu sendirian dalam ketidakpastian. Seseorang yang membuatku selalu merasa diprioritaskan. Selamat jalan. Terima kasih sudah hadir. Semoga nantinya kamu juga akan dapat berlabuh; pada hati yang kamu anggap tepat.
    Dari seseorang, yang pernah berharap kau nomor satukan.

    idntimes.com