• Tentang Kamu Yang Diam-Diam Aku Menyimpan Rasa

    Mengagumi seseorang adalah hal yang sangat aku benci. Bagaimana tidak? Aku harus menampakkan wajah biasa saja sementara hatiku terus-menerus memikirkan sang pujaan. Demi profesionalitas, aku harus mampu mencampikkan semua perasaan yang terus menggelayuti pikiranku.

    Suatu hari aku jatuh hati pada seseorang di seberang sana. Setahun aku merasakan cinta yang teramat-sangat. Hari-hari berat aku lalui, yaitu memerangi akal sehat dan nurani. Tekad yang selama ini aku perjuangkan seakan hendak goyah ketika mengenalnya. Tapi sekali lagi, demi profesionalitas aku harus mencampakkan perasaan ini dan menutupi dengan wajah biasa saja.


    Namun, entah mengapa tiba-tiba semua perasaan itu hilang sama sekali. Ketika rasa itu hilang, aku merasakan begitu bahagia dan nyaman. Hatiku dan pikiranku tak lagi harus bentrok memikirkan antara nafsu dan nurani. Mereka berjalan seirama dalam satu tekad. Tidak ada pria selama dalam proses pemantasan diri. Ya, tekad itu yang selama ini aku perjuangkan.

    Tetapi hari itu tidak berlangsung lama. Setelah aku merasakan suatu perasaan yang teramat nyaman dalam periode pemantasan, kembali hadir sesosok pria yang tak bisa membuatku berprinsip lebih lama. Dia teramat istimewa dengan segala ‘kesempurnaan’ yang melekat pada pribadinya. Aku menyesal mengapa harus mengenalnya disaat semua hatiku sudah benar-benar siap memperbaiki prinsip. Namun aku juga bersyukur atas dasar aku berjumpa dengannya membuatku tahu bahwa segala dugaanku tentang pria terpatahkan.

    Ya, semua dugaan negatifku tentang pria terpatahkan oleh pria itu. Bagaimana tidak? Semula aku menganggap semua pria itu... menyebalkan! Mereka dengan seenaknya berganti perempuan tanpa ada kehendak untuk serius kepadanya. Ya, kecuali beberapa pria yang kuanggap begitu sedikit dibandingkan mayoritas pria kebanyakan. Itupun, beberapa pria mengatakannya karena didukung oleh wajah yang... mungkin boleh dibilang prinsip itu diambil karena keadaan. Ah, susah sekali bilang kalau mereka jelek. Iya, faktor unlucky by their face. Maaf, tapi kebanyakan yang cakep-cakep tidak mau memegang prinsip itu, kan? Lalu, ada juga pria yang notabene ‘lumayan’, tapi kurang meyakinkan sebagai pria. Ya, sebut saja mereka ‘melambai’. Kalau pria yang keren, macho, cakep, pinter, berwibawa, tapi tidak mau mempermainkan perempuan.... amat sangat jarang banget. Tapi ada, pasti. Dan dia membuktikannya. 

    Semula aku berfikir kerjaan pria hanya bermain-main. Main futsal, bola, perempuan... ehh... tapi semua itu terpatahkan ketika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri seorang pria yang dengan fashihnya membaca al-quran ditengah ramainya kelas ketika dosen belum hadir. masyaAllah... begitulah seharusnya calon imam idaman..

    Jangan fikir pria yang sholih ‘nglutuk’ (kalau bahasanya aku) itu kuper. Dia beda. Dia aktif dalam setiap kegiatan. Dia cerdas dengan pemikirannya. Dia jauh mikir kedepan dan senantiasa memandang sesuatu melalui dalil aqli dan naqli. Dan yang paling penting, motto hidupnya adalah “hidup dengan ilmu dan iman”. Kombinasi dunia-akhirat yang pas dengan kemasan yang tidak menjemukan pun tidak memalukan.

    Lagi-lagi, aku terkagum pada seorang makhluk yang mungkin dapat melalaikanku dari Rabb-ku. Perasaan yang paling aku benci hinggap kembali. Ya, sesempurna apapun dia dimataku, semenarik apapun dia menurutku, dan sepopuler apapun dia dihadapan perempuan-perempuan lain, harusnya aku tak boleh terlalu terpikirkan seseorang yang belum tentu akan menjadi milikku. Nyawaku adalah nyawa-Nya, waktuku adalah waktu-Nya, dan hatiku adalah milik-Nya. Begitupun dia. Segala yang tersirat dalam tubuh kami adalah kepunyaan-Nya. Bagaimana mungkin aku mengingkari-Nya dengan terlalu banyak memikirkan makhluk ketimbang Dia? 

    Aku pasrah. Mudah bagi-Nya untuk menyatukan dua kutub yang menurut akal mustahil bersatu. Pun tak mustahil bagi-Nya untuk memisahkan dua senyawa yang kata orang tak mungkin dapat dipisahkan. Demikian aku dan dia. Kalau benar, pasti Dia punya jutaan, milyaran bahkan  tak hingga cara untuk menyatukan kami. Pun kalau salah, apapun usaha tak ada yang bisa menghalangi-Nya untuk memisahkan. Aku pasrah. Dan aku yakin. Segala apa yang digariskan-Nya adalah satu yang terbaik. Terbaik untukku, terbaik untuknya, dan terbaik menurut-Nya. Dia sempurna. Dan aku harus memantaskan diri untuk menerima tetesan kesempurnaan-Nya. Kalaupun bukan dengannya, mungkin dengan dia yang lebih baik lagi. Aku percaya, dan aku yakin Rabb-ku tak akan mengingkari janji-Nya.

    jomloo.com