• Penuh Harapan Aku Selalu Yakin, Cinta dalam Jarak Ini Akan Segera Berakhir

    Aku kembali menelusuri jalanan aspal lurus tak berbelok. Hanya hamparan sawah dan gedung yang terlihat sangat mini terlihat jauh dalam perjalanan. Tak terhitung sudah berapa kali aku menoleh ke samping kiriku. Menatap sendu kepada seorang lelaki yang berusaha untuk fokus ke jalanan sembari menggandeng tangan kananku dengan erat.

    Ia melihatku kembali dengan tatapan yang tak kalah sendu, dan selalu berkata “We’ll gonna be okay.” Kemudian ia kembali membawa tanganku mendekati bibirnya dan mencium punggung tanganku.


    Batin ini semakin menyiksa, aku akan merindukan sentuhan dan kasih sayang ini. Aku melihat angka kilometer di tengah jalan tol yang semakin mengecil. Perasaan ini semakin diaduk, penuh dengan emosi yang aku harus bisa tangkis.

    Genggaman tangan perlahan-lahan sirna. Dia membuka kaca dan mengambil karcis. Hening. Kami bahkan tidak dapat mengucapkan kalimat perpisahan atau berpegangan tangan. Aku bahkan tidak sanggup melihat papan keberangkatan bandara dan hanya bisa menatapnya seperti seorang anak kecil yang menahan ingin dibelikan sebuah mainan.

    Aku hanya ingin memeluknya. Hanya ingin bersamanya. Itu-lah yang ingin aku katakan kepadanya. Tidak mau berpisah lagi dengannya. Aku lelah dengan perpisahan ini. Namun, berkali-kali aku ucapkan, kita juga sudah tahu bahwa inilah jalan yang harus ditempuh.

    “Oke, udah sampai. Kamu check in dulu gih, nanti aku tunggu di luar.”

    Aku tidak menjawab. Hanya bisa menatap wajahnya dan membuang nafasku dengan berat. Aku mengambil tas di belakang bersiap untuk keluar dari pintu. Lalu dia menghentikanku dengan tangan kanannya yang dingin.

    Aku menatapnya lagi, tapi ia menatapku lebih dalam dari sebelumnya. “Aku sayang kamu. Saatnya berjuang lagi buat kita yah.” ujarnya sambil tersenyum.

    Aku menganggukkan kepalaku, dan sadar anggukkan itu berbuah dengan kecupan manis di kening. Kami keluar bersama mengambil koper lalu berjalan bergandengan tangan. Aku melihat ke atas. Awan tak mengeluarkan warna abu-abunya saat ini, berarti tanda tidak akan delay. Justru, yang aku inginkan adalah hujan deras dan pesawatku akan delay dan mendapatkan waktu tambahan bersamanya.

    Aku mengambil tiketku di tas dan melihat nama “Octa Valensia”. Tak henti aku mengecek kembali jam yang tertulis dan berharap aku salah melihat jam seperti lebih malam atau aku melihat layar TV dan diberitakan pesawatku akan delay. Namun, semua harapanku tidak ada yang muncul. Bahkan, pertanda saja tidak ada.

    Usai check in, seperti biasanya aku menuju ke luar ruangan dan bertemu dengan Wira. Dengan hem putihnya, aku bisa melihat otot kekar yang berhasil ia dapatkan setelah berbulan-bulan berolahraga. Dia kembali menggandeng tanganku dan kami berjalan menuju mini cafe.

    Rutinitas bandara sudah biasa kami lalui. Bahkan, selama 15 tahun aku mengenalnya, aku hanya pernah berada di satu kota dengannya selama 3 tahun ketika kami duduk di Sekolah Dasar. Selama 15 tahun percakapan, seperti tidak ada kata kehilangan topik dalam kamus kami. Bahkan, beberapa menit sebelum berpisah, kami masih bisa membicarakan topik yang menghasilkan tawa hingga orang-orang melihat seperti senang melihat kebahagiaan ataupun terganggu.

    Aku mendengarkan suara kebencian. Suara itu dibenci oleh ribuan orang yang akan berpisah dalam bandara. Pengumuman boarding. Aku yang masih menyeruput es miloku hanya bisa menatapnya. Aku merasakan air mataku yang tak tertahan menggenang di kelopak mataku yang membesar akibat kurang tidur.

    Aku rela menghabiskan 24 jam lagi bersamanya meskipun aku tidak memejamkan mataku. Wira hanya dapat tersenyum dan memegang tanganku. Sentuhan lembutnya seperti memberikan aku telepati mengenai rasa sayangnya yang mendalam. Aku tidak bisa mendeskripsikan kembali seberapa beruntungnya aku memilikinya.

    Aku memeluknya dengan erat. Aku merasakan detak jantungnya yang berdebar, seperti pendaman emosinya. Dia begitu tenang memelukku dan mengatakan kembali bahwa semua perjuangan ini akan berhasil.

    “Ini cuma tiga bulan, Sayang.”

    Ini akan menjadi perpisahan terlama kami. Meskipun Surabaya-Jakarta dapat ditempuh selama satu jam lebih dengan pesawat. Kami selalu mempertimbangkan dengan matang untuk bertemu, seperti kesibukan dan urusan finansial. Aku harus menanti tanggal merah di kalendarku, melihat apakah ada long weekend dan harus menghubunginya untuk menanyakan kesibukannya. Untuk menghubunginya, aku harus menunggu hingga malam ketika ia tidak sibuk, dan hasilnya adalah aku sudah terlelap dalam mimpi dan harus bekerja esok paginya.

    “Selamat ketemu di Skype.” ucapku.

    Aku melewati penjaga keamanan sambil melihatnya. Kami sudah dibatasi oleh kaca sekarang. Aku membayangkan memiliki jam yang dapat menghentikan waktu, satu menit saja-pun tak apa. Satu menit aku dapat melihatnya lebih lama walaupun melalui kaca besar sebagai penghalang kami. Namun, panggilan boarding tak hentinya membuat hatiku kerasukan. Kerasukan tidak ingin berpisah dengannya.

    Aku berjalan menuju pintu boarding. Tidak ada lagi mata yang menatapku lebih dalam lagi atau badan yang gagah selama tiga bulan. Bahkan aku tidak bisa melihat bayangannya lagi saat ini.

    Aku tidak menghentikan kakiku untuk berjalan. Sedetik saja aku berhenti, mungkin aku akan keluar dan tidak peduli dengan pekerjaan yang menanti esok pagi. Namun, aku harus mendorong untuk mampu melewati perpisahan ini lagi.

    Aku melihat sekeliling, orang-orang berlalu-lalang dan sibuk dengan gadget ataupun menggiring koper mereka. Hingga aku berpikir apakah semua orang memiliki kesedihan terhadap perpisahan sepertiku. Perpisahan yang aku tidak tahu kapan akan berakhir.

    Rasanya ingin memberontak saja dan berteriak mengapa aku belum ditakdirkan untuk berada dalam satu kota bersamanya? Makan siang bersamanya? Dan tidak perlu melihat pasangan lain melakukan kegiatan tertentu dan membayangkan bahwa aku dan Wira akan lebih bahagia melakukan itu daripada mereka.

    Penuh harap aku selalu yakin, ini akan berakhir. Suatu hari, pelukannya tidak lagi abstrak untukku dan aku bisa memegang tanganya kapanpun aku ingin dan tak pernah aku harus melepaskannya lagi dalam paksaan.

    idntimes.com