• Mantan Juga Manusia. Apa Salahnya Kalau Kamu Sahabatan dengan Dia?

    Putus cinta pasti melahirkan sesosok manusia yang sering kita sebut sebagai ‘mantan’. Kebanyakan orang dapat terinfeksi penyakit ‘alergi mantan’ dimana penderitanya mengalami sesak napas, darah tinggi, muka memerah, detak jantung meningkat, sulit berbicara, bahkan lupa ingatan ketika bertemu si mantan.

    Penderita ‘alergi mantan’ umumnya mengobati penyakitnya dengan menganggap mantan sebagai musuh nomor satu atau menanamkan dalam hati dan pikiran bahwa dia tidak mengenal si mantan, bahkan menganggap makhluk bernama mantan ini tidak pernah ada di bumi. Pertanyaannya, apakah cara-cara tersebut ampuh untuk menyembuhkan penyakit ‘alergi mantan’ kita untuk selamanya?

    Berdamai dengan mantan dan menjadikan dia sahabatmu adalah salah satu cara ampuh untuk menyembuhkan penyakit ‘alergi mantan’. Hal itu dapat terwujud dengan beberapa tahap berikut ini :


    1. Ikhlas.

    Tahap ini merupakan yang paling sulit. Ikhlaskan kondisimu saat ini. Yakinkan dirimu bahwa kamu mampu bahagia tanpa dia. Renungkanlah kehidupanmu sebelum bertemu dengan dia. Saat itu, kamu tidak pernah membayangkan ada seseorang seperti dia, dan hidupmu saat itu bahagia. Ketika bersama dia, kamu merasa lebih bahagia. Dan saat dia pergi, mengapa kamu tidak bisa merasakan bahagia, jika sebelum mengenal dia saja kamu mampu bahagia dengan caramu sendiri?

    Percayalah bahwa keadaanmu saat ini adalah yang terbaik. Mungkin kamu merasa dia adalah yang terbaik untuk hidupmu, tapi apakah dia merasakan hal yang sama? Renungkanlah, apakah kamu benar-benar sanggup hidup dengan seseorang yang tidak sungguh-sungguh terhadapmu?

    2. Mengingat kenangan bersamanya sebagai suatu yang positif dalam hidupmu.

    Kamu tidak akan pernah benar-benar mampu melupakan kenangan-kenangan bersamanya kecuali kepalamu terbentur hebat dan mengalami amnesia. Jika tanpa sadar kamu mengingat kenangan indah bersama dia, kenanglah itu sebagai pengalaman manis dalam hidupmu, bukan untuk mengenang dia.

    Bersyukurlah karena kamu pernah merasakan pengalaman-pengalaman yang belum tentu bisa dirasakan orang lain, dan yakinlah bahwa pengalaman itu memang suatu anugrah yang diberikan kepadamu dan kebetulan saja dapat kamu rasakan bersama dia.

    Jika itu adalah kenangan buruk, yakinlah bahwa itu adalah suatu pengalaman luar biasa dan menjadi pembelajaran yang mampu membentukmu jadi pribadi yang kuat dan lebih baik lagi. Bersyukurlah untuk itu, karena mungkin di luar sana banyak yang tenggelam dalam masalah sepertimu karena tidak memiliki pengalaman luar biasa sepertimu.

    3. Posisikan dia seperti kamu memposisikan teman-temanmu.

    Dulu dia pernah menjadi temanmu, dan sampai kapanpun dia tetap temanmu. Memposisikan dia sebagai temanmu dapat membuatmu membatasi rasa ingin tahumu tentang dia. Selayaknya kamu penasaran tentang temanmu, kamu tidak akan ingin tau lebih jauh tentang hal-hal pribadi yang mungkin tidak penting untuk kamu ketahui.

    Dengan begini, kamu tetap mendapatkan informasi yang cukup tentang dia, tanpa harus mengetahui lebih detail seperti saat kamu masih bersama dia, dan hal ini juga akan mencegahmu memikirkan dia terlalu dalam.

    4. Menjadi pembuka komunikasi.

    Rasa canggung yang kamu rasakan terhadapnya juga dia rasakan terhadapmu. Tunjukkan sikap santaimu saat bertemu dia, kemudian mulailah dengan sapaan ringan seperti: “Lah, ada kamu juga? Apa kabar?”, atau sapaan ringan lain yang sering kamu ucapkan pada teman-temanmu.

    Mungkin pada awalnya dia akan memandangmu dengan tatapan bingung, atau bahkan dia tidak mampu menutupi kegugupannya saat behadapan denganmu. Jika dia hanya tersenyum atau membalas seadanya, kamu dapat mengatasinya dengan menjawab, “Eh, aku duluan ya, daahh..”.

    Lakukan hal tersebut setiap bertemu dengannya, buat dia merasa kamu sudah melupakannya dan menganggap dia sebagai temanmu, itu akan membuatnya lebih mudah berinteraksi denganmu, bahkan mampu membuatmu terlihat luar biasa karena kamu mampu melupakan dia dengan cepat dan bersikap santai di hadapannya. Hal yang belum tentu mampu dia lakukan.

    5. Mulai berbagi dan saling mendukung.

    Jika dia sudah mulai menanggapi sapaanmu, maka tidak ada salahnya kamu mulai berbagi cerita ringan seperti yang sering kamu lakukan dengan teman-temanmu. Dukunglah dia dalam menghadapi masalahnya, seperti kamu mendukung temanmu.

    Jika kamu mendengar informasi pribadi dari teman-temanmu tentang kehidupan asmaranya yang baru, tidak ada salahnya kamu menunjukkan dukunganmu, seperti “Eh, kata anak-anak kamu lagi deket sama si Mawar ya? Bagus tuh, walaupun sedikit galak, tapi dia sabar banget, cocok deh buat kamu. Cepet deh jadiin, nanti nyesel loh kalau ditikung orang!”.

    6. Mantanmu sahabatmu.

    Dukungan dan sikap santaimu terhadap hal-hal pribadi tentang dirinya akan membuat dia nyaman untuk berbagi lagi bersamamu seperti sahabat lama. Jika pada saatnya kalian sudah menemukan pasangan masing-masing, kenalkanlah dia sebagai sahabatmu pada pasanganmu.

    Sebelum mengenalkan, kamu dapat berbicara berdua dengan pasanganmu bahwa kamu dan dia dulu pernah punya hubungan spesial, tapi dulu dan sekarang dia tetap sahabatmu. Mungkin pada awalnya pasanganmu tidak bisa menerima sepenuhnya, namun kamu dapat meyakinkan pasanganmu dengan cara mendekatkan diri dengan pasangan mantanmu.

    Buatlah pasangan mantanmu merasa kamu bukan ancaman untuk hubungan mereka, kalian bahkan juga bisa bersahabat. Hal ini juga bisa kamu bicarakan dengan mantanmu sehingga dia akan melakukan hal yang sama pada pasanganmu. Dengan melihat keharmonisan hubunganmu dengan pasangan mantanmu, maka pasanganmu saat ini tidak akan merasa terganggu dengan hubunganmu dengan mantanmu.

    idntimes.com