• Jodoh Pasti Bertemu

    Jodoh Pasti Bertemu

    Ada berita "romance" yang pahit sedang heboh di dunia maya. Berawal dari berita di media harian lokal, diunggah di FB, lalu dibagi terus-menerus disertai komentar yang bermacam-macam. Intinya, ada muda-mudi yang sudah berpacaran selama tujuh tahun tapi tak berlanjut ke pelaminan. Si cowok menikah dengan perempuan lain dan si mantan datang ke resepsi pernikahannya. Hebohnya karena si mantan menangis dan dipeluk oleh mempelai pria disaksikan banyak pasang mata.

    Baiklah, ini hanya preambule atau pembuka saja bagi tulisan ini. Berpacaran sekian tahun ternyata tak menjamin seseorang akan menjadi pasangan suami istri yang sah. Satu hal yang pasti yaitu menumpuk dosa. Jodoh memang misteri Ilahi. Biarpun ada pihak yang mengatakan bahwa mencari jodoh itu seperti aktivitas muamalah biasa, yaitu yang gigih mencari, maka dia yang mendapatkan. Begitu juga sebaliknya, bila diam saja maka tak akan ada siapa pun yang menghampiri. Tapi bagi saya pribadi, jodoh itu seperti rezeki.

    Di era yang katanya modern ini, banyak orang yang dengan sombongnya menyatakan bahwa mencari jodoh itu itu tergantung upaya manusia. Bila dia mau gigih mencari jodoh, maka ia pasti mendapatkannya. Bila dia masih jomblo atau lajang hingga usia tak lagi muda, maka itu dipastikan dia kurang gigih alias malas dan tidak serius mencari jodoh.

    Ada seorang teman, di usianya yang sudah lewat di atas 50 tahun masih melajang. Di masa mudanya dia bekerja kantoran. Dia pun bukan perempuan udik yang tak tahu apa-apa alias berpendidikan. Nyatanya dia belum menikah sekali pun di usianya yang menjelang senja.

    Ketika saya berusaha ingin tahu lebih lanjut tentang perjalanan hidupnya, apakah dia memang tidak berniat menikah dan memilih melajang, dia pun menjawab, "Saya pun ingin menikah. Berbagai upaya telah saya lakukan, baik saya ikhtiar sendiri maupun dibantu teman. Bahkan ibu bapak saya waktu masih hidup pun sudah berusaha mencarikan. Tapi tetap, jodoh untuk saya belum ada hingga kini."

    ....Di era yang katanya modern ini, banyak orang yang dengan sombongnya menyatakan bahwa mencari jodoh itu itu tergantung upaya manusia....

    Sudahkah membaca Bidadari-Bidadari Surga karangan Tere Liye? Saya melihat bayangan kisah hidup tokoh Laisa yang berhati mulia pada sang teman. Meskipun tidak sama tapi mereka mempunyai kemiripan kisah. Perempuan sederhana yang menginginkan pernikahan. Tapi karena satu dan lain hal, takdir tak menghendakinya. Masihkah kita tega menyimpulkan bahwa orang-orang seperti ini tidak berusaha keras untuk menemukan jodohnya?

    Begitu sebaliknya. Ada juga orang-orang yang sama sekali tidak pernah memikirkan atau mengikhtiarkan untuk mendapat jodoh, "tiba-tiba" saja ia ada di depan mata. Sedang asik menikmati dunia kampus, sang guru ngaji datang menawarkan jodoh. Atau mungkin berawal dari bersin di dalam bus, ada laki-laki yang ingin bertemu dengan orangtua si gadis. Atau kisah unik salah satu sahabat tentang teman desanya yang membonceng ibunya naik sepeda gowes, itu adalah pintu jodohnya. Begitu sederhana, begitu cepat, begitu mudah.

    Siapa yang menggerakkan hati mereka agar mempunyai kecenderungan terhadap perempuan atau laki-laki yang diinginkannya? Siapa yang mempermudah jalannya jodoh? Pada saat yang sama pada sosok manusia yang lain, jalan itu terasa begitu terjal?

    Mudah sekali bagi mereka yang sudah mendapatkan jodoh, mencibir pihak yang belum mendapatkannya dengan istilah kurang ikhtiyar, tidak gigih mencari, tidak serius, dan banyak kata lainnya. Kata-kata yang menunjukkan betapa sombongnya kita sebagai manusia menganggap seolah-olah urusan jodoh begitu enteng. Padahal, dalam genggaman siapakah hati manusia itu berada? Kecenderungan dan keridhoan satu pribadi terhadap pribadi lain yang menjadi jodohnya, itu benar-benar kuasa Allah untuk memutuskan.

    Kita tak bisa menafikkan bahwa keberadaan sistem yang jahil seperti sekarang ini menyumbang makin susahnya seseorang mendapatkan jodohnya. Mahar yang tinggi, adat-istiadat yang tak islami, kebijakan negara yang mempersulit pernikahan, ini semua menyumbang faktor tersendatnya sang jodoh untuk hadir. Terlepas rintangan apapun itu yang menghadang, sesungguhnya muara bagi setiap peristiwa adalah sebagai ujian diri bagi tiap pribadi.

    Mereka yang telah bertemu jodohnya, berkatalah yang baik atau diam. Mereka yang ditakdirkan Allah untuk menunggu, bersabarlah dalam ketakwaan. Jauhi kemaksiatan. Bukan ikhtiar jasadi yang kurang, tapi kualitas ruh berupa kepasrahan total dan keyakinan yang teguh pada takdir-Nya ini yang ternyata perlu diasah lagi. Bukan suami atau istri nanti yang bisa membawa seseorang pada surga-Nya. Tapi sikap dan keikhlasan kita untuk menerima setiap jengkal takdir-Nya penuh rasa syukur dan ridho. Itu yang akan kita bawa saat menghadap-Nya kelak.

    Yakinlah, bila jodoh pasti kan bertemu. Bisa saja di ujung usia atau bahkan ketika kita berada di jannahNya. Insya Allah. (riafariana | voa-islam.com )