• Hitler Pernah Kirim Ilmuwan ke Antartika untuk Membuka Gerbang Waktu

    Hitler Pernah Kirim Ilmuwan ke Antartika untuk Membuka Gerbang Waktu

    Selama ini, banyak fenomena alam yang misterius di Antartika, dan yang paling terkenal adalah Cosmic Gate atau gerbang kosmik. Dalam arsip rahasia Hitler, Amerika Serikat dan eks Uni Soviet rata-rata menemukan bahwa Hitler pernah mengirim sejumlah ilmuwan top Jerman ke Antartika, untuk membuka gerbang kosmik. Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa Hitler pernah mengirim secara rahasia para ilmuwannya ke Tibet, Tiongkok untuk mencari keberadaan poros Bumi.

    Sejak zaman dahulu, orang-orang selalu berpikir bahwa, begitu waktu berlalu, maka ia tidak akan pernah bisa berputar kembali. Sementara menurut para filsuf bahwa waktu satu dimensi itu bergulir secara perlahan ke depan. Tapi sejak Einstein mencetuskan teori relativitasnya, ia mengatakan waktu bisa berhenti di dunia berkecepatan cahaya. Dan waktu bisa berputar kembali di dunia yang melebihi kecepatan cahaya. Maka, para ilmuwan pun terus mencari gerbang waktu, mencari pintu masuk ruang multi-dimensi lain. Ilmu pengetahuan dan teknologi modern telah membuktikan bahwa waktu bisa diperlambat.

    Dalam sebuah buku berjudul “UFOs : Nazi Secret Weapons” yang ditulis Ernst Zundel disebutkan, bahwa Hitler dan pasukan terakhirnya naik ke kapal selam, melarikan diri ke Argentina, kemudian membangun markas UFO di sebuah gua yang menuju ke Pusat Bumi.

    Sementara itu, menurut “The Hollow Earth Research Society in Ontario, Canada,” bahwa di Hitler dan pasukan elitnya masuk ke dunia bawah tanah di daerah Antartika melalui sebuah terowongan bawah tanah di Kutub Selatan itu, dan tidak lagi mengadakan kontak dengan sejarah manusia. Pernyataan ini mungkin merupakan buah pemikiran novelis, namun, saat menghadapi situasi yang buruk semasa Perang Dunia II, Hitler disinyalir memang pernah mengubah waktu, dan membuat waktu berputar kembali ke awal Perang Dunia II, untuk mengganti sejumlah tindakannya yang salah.

    Ketika itu, Hitler pernah mengirim ilmuwannya ke Tibet, Tiongkok untuk menemukan poros Bumi, dan mengirim sejumlah ilmuwan ke Antartika untuk membuka gerbang waktu di Kutub Selatan itu. Setelah Perang Dunia II berakhir, dimana dalam sebuah arsip rahasia Hitler, Amerika Serikat dan Eks Uni Soviet menemukan bahwa Hitler pernah mengirim ilmuwan top Jerman ke Antartika, dan secara diam-diam mengembangkan senjata canggih, siap untuk menguasai dunia.

    Intel Amerika dan Soviet rata-rata telah memverifikasi, pada 1939, Hitler pernah mengutus orang kepercayaannya yakni Alfred Josef Ferdinand Jodl ke Kutub Selatan, dan membawa sejumlah besar ilmuwan, insinyur dan peralatan laboratorium. Mereka berangkat bersama masing-masing dengan sejumlah besar kapal selam. AS dan Uni Soviet ketika itu ingin memperoleh data aktual tentang persenjataan canggih yang dikembangkan Hitler, mereka mengirim sejumlah besar agen rahasia untuk melacak keberadaan para ilmuwan dan insinyur yang dibawa Alfred Jodl, namun tidak ditemukan.

    Dengan demikian, sejumlah pejabat dari Departemen Pertahanan AS dan FBI menyatakan, bahwa kota misterius di pedalaman benua Antartika yang ditemukan satelit Amerika ini dibangun oleh ilmuwan yang dikirim Hitler ke Antartika, dan para ilmuwan tersebut bersembunyi di sini.

    Meskipun bertahun-tahun sudah Perang Dunia II berakhir, namun, tidak ada yang secara resmi mengumumkan keberadaan Hitler secara detail. Seusai perang, negara sekutu menemukan bahwa ada lebih dari 2.000 ilmuwan Jerman dan Italia hilang entah kemana. Jika dikatakan, “Hitler telah melarikan diri ke dunia bawah tanah pada detik-detik terakhir sebelum jatuhnya Berlin,” sebenarnya juga ini bukan argumen yang dibuat-buat dan irasional, tetapi kesimpulan yang dikaji secara rasional oleh sejumlah ilmuwan. Orang-orang ini tersebar di seluruh dunia, ada kelompok yang khusus mendalami riset, di satu sisi mengumpulkan semua jenis data bersejarah, dan terus-memperhatikan temuan terbaru dari ilmuwan di sisi lainnya.

    Pada 27 Januari 1995 silam, fisikawan Amerika Merruand Michellin mengamati kabut-kabut berwarna putih abu-abu yang terus berputar di atas langit Antartika. Awalnya, mereka pikir itu hanya badai pasir biasa. Tapi kabut putih abu-abu itu tidak berubah bentuk dan juga tidak bergerak seiring dengan berjalannya waktu. Peneliti kemudian meluncurkan sebuah balon cuaca, yang dilengkapi dengan alat pengukur kecepatan angin, suhu dan instrumen kelembaban atmosfer.

    Namun, balon itu naik dengan cepat ke angkasa begitu diuncurkan, lalu hilang seketika. Beberapa saat kemudian, para peneliti menggunakan tali yang ditambatan ke balon, dan menarik balon itu kembali. Namun, mereka terkejut, karena timer balon menunjukkan bahwa percobaan dilakukan pada 27 Januari 1965. Setiap kali selalu menunjukkan waktunya berputar mundur 30 tahun, timer itu menampilkan waktu yang telah berlalu.

    Sekarang, penelitian terkait fenomena yang tidak biasa itu masih berlangsung hingga detik ini. Orang-orang menduga ruang yang terus berputar di atas langit Antartika itu adalah sebuah jalan yang bisa menuju ke era lain. Jika, rahasia itu berhasil dipecahkan, dan gerbang waktu itu juga benar-benar eksis, maka dunia akan dibuat gila karenanya.
    Sumber : viva