• Sekotong, Surga Bahari di Barat Lombok

    Sekotong, Surga Bahari di Barat Lombok
    Sejumlah wisatawan Nusantara bertolak dari Dermaga Tawun di Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menuju ke Gili Nanggu, sebuah pulau di tengah laut yang menawarkan wisata berenang di air laut jernih, menyelam, dan bercengkerama dengan ikan yang hidup di terumbu karang. Sekotong menjadi destinasi favorit kedua setelah Senggigi yang ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.

    HAMPARAN pasir putih berkilau kekuningan mengitari ujung barat Pulau Lombok di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Hamparan pasir putih semakin eksotis saat berpadu dengan daratan yang menghijau tertutup rimbunan daun bakau dan birunya air di Selat Lombok.

    Pasir putih mengitari ujung daratan Sekotong yang sedikit menjorok ke laut. Alhasil, Sekotong menjadi daratan yang dikelilingi laut di tiga sisi. Di sisi utara, yakni di sepanjang Jalan Raya Sekotong hingga Jalan Raya Siung, terdapat pantai landai dan berarus tenang.

    Hampir tidak terlihat gelombang laut di kawasan utara pesisir Sekotong. Alhasil, sejauh mata memandang, air laut yang menampilkan warna biru jernih dan biru toska di beberapa titik tak ubahnya seperti sebuah kolam renang raksasa.

    Dua perahu bermesin tempel milik nelayan bertolak dari Pelabuhan Tawun di Desa Sekotong Barat, Kamis (4/2) pagi. Perahu Langgeng yang melaju terlebih dulu dan perahu Mulie Jati yang melaju di belakangnya, sama-sama sarat penumpang.

    Mereka adalah wisatawan Nusantara, yang ingin menuju pulau kecil (gili) di tengah lautan. Dengan menumpang perahu pencari ikan yang dimodifikasi menjadi perahu wisata, para wisatawan itu hanya butuh waktu 15 menit untuk mencapai gili.

    Di lautan itu terdapat banyak pulau-pulau kecil, seperti Gili Asahan, Gili Gede, Gili Poh, Gili Nanggu, Gili Tangkong, Gili Kedis, dan Gili Sudak. Pulau-pulau kecil itu seperti mengapung di permukaan laut.

    Setiap gili menyimpan pesona tersendiri. Gili Gede, misalnya, merupakan perkampungan atau desa nelayan yang menggantungkan hidup dari mencari ikan di laut. Nelayan Gili Gede tak sama dengan nelayan di Pulau Jawa pada umumnya sebab mereka mencari ikan dengan cara memancing dan memanah.

    Bersebelahan dengan Gili Gede adalah Gili Nanggu yang belakangan tersohor sebagai destinasi wisata baru di Lombok. Bahkan, pesona Gili Nanggu disebut mampu mengalahkan pesona Gili Trawangan yang sudah mendunia. Pulau kecil ini memiliki spot-spot menawan untuk berenang, menyelam, melakukan kegiatan konservasi bawah laut, dan berjemur di atas pasir.

    Sekotong juga menawarkan pesona Gili Sudak yang menarik wisatawan untuk menikmati aneka hidangan laut, seperti ikan bakar, ikan goreng, udang dan cumi-cumi.

    ”Luar biasa pengalaman berwisata di sini. Benar-benar berbeda dari tempat wisata lain, dan kami sangat puas. Rasanya ingin lebih lama tinggal kalau tidak ingat harus kembali kerja,” ujar Rania (32), wisatawan asal Jakarta yang baru pertama berkunjung ke Sekotong.

    Bagi pengunjung yang tak tertarik menjelajah gili-gili itu, tak perlu khawatir. Anda bisa bermain di hamparan pasir putih di sepanjang Pantai Sekotong yang panjangnya beberapa kilometer. Pantai ini mudah dicapai karena ada di pinggir jalan raya beraspal hotmix.

    Lantas, bagaimana jika wisatawan tidak menyukai suasana pantai yang tenang. Di Sekotong, hal itu bukan persoalan berat. Wisatawan tinggal meneruskan langkah menyusuri jalanan beraspal hingga bertemu jalan terjal di ujung pulau.

    Pulau Bangko-bangko

    Tepat di ujung pulau itulah atau disebut desert point terdapat Pantai Bangko-bangko. Pantai ini dikenal sebagai surganya para pencinta selancar (surfing) karena memiliki ombak dengan gulungan dahsyat yang mampu memompa adrenalin.

    Namun, lokasi pantai ini masih sulit dijangkau lewat perjalanan darat karena ada sebagian jalan yang sulit dilalui kendaraan pribadi pada umumnya, kecuali kendaraan dengan gardan ganda.

    Pulau Bangko-bangko lebih mudah dijangkau wisatawan dari Pulau Bali. Dari Pelabuhan Padang Bai, dengan menggunakan jalur laut, wisatawan dapat menuju ke pulau itu.

    Kendati sebagian jalan menuju destinasi wisata belum mulus, secara umum akses darat menuju ke Kecamatan Sekotong sudah beraspal. Perjalanan dari Kota Mataram hingga Sekotong dengan jarak sekitar 60 kilometer dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam.

    Pengunjung sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi sebab belum ada kendaraan umum. Selain itu, rute perjalanan menuju ke Sekotong juga sangat menantang.

    Selepas dari ibu kota Kabupaten Lombok Barat di Kecamatan Gerung, perjalanan harus ditempuh melewati jalan berkelok, menikung, tanjakan serta turunan yang cukup curam karena posisi jalan mengitari punggung bukit.

    Perjalanan menggunakan kendaraan pribadi bisa dilakukan dengan menyewa mobil. Tarifnya sekitar Rp 450.000 hingga Rp 550.000 per hari, sudah termasuk sopir dan bahan bakar minyak.

    Apabila pengunjung ingin berkeliling gili, mereka bisa singgah di Dermaga Tawun dan melanjutkan petualangan dengan menyewa perahu.

    Penyedia jasa penyewaan perahu, Efan (35), mengatakan, tarif sewa sekitar Rp 250.000 hingga Rp 350.000 per perahu dengan kapasitas sekitar enam penumpang. Wisatawan akan diantar menuju ke Gili Nanggu untuk menikmati panorama pantai berpasir putih halus, menyelam, dan berenang.

    ”Operator perahu sekaligus merangkap menjadi pemandu wisata. Kami akan menunjukkan titik-titik yang paling bagus untuk berenang atau menyelam. Wisatawan juga bisa bermain dengan ikan-ikan eksotik yang hidup di terumbu karang dengan menaburkan roti,” ujarnya.

    Efan mengatakan, tarif masuk ke Gili Nanggu Rp 5.000
    per orang. Uang itu untuk biaya pemeliharaan kebersihan di pulau. Selain itu, untuk menyelam, wisatawan harus menyewa peralatan. Biayanya sekitar Rp 50.000 per orang.

    ”Di sini tidak ada yang mahal, termasuk untuk menikmati aneka hidangan laut di Gili Sudak. Kami tidak ingin wisatawan jera datang ke Sekotong. Pelaku industri wisata di kampung ini berharap wisatawan datang kembali,” ucap Efan.

    Di Sekotong pun sudah ada penginapan kendati jumlahnya tidak banyak. Bahkan, mungkin sangat tidak sebanding dengan jumlah kunjungan wisatawan yang mencapai 25.261 orang selama tahun 2015. Mayoritas adalah wisatawan mancanegara dengan jumlah 22.065 orang. (RUNIK SRI ASTUTI) - Travel Kompas