• Coconut Garden Beach Maumere

    Coconut Garden Beach Maumere


    Nama Coconut Garden Beach tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Maumere, Nusa Tenggara Timur. Tempat ini menjadi pusat wisata bahari yang ramai dikunjungi.

    Pepohonan kelapa, hamparan pantai pasir putih landai, dan penataan tempat peristirahatan yang mengikuti arsitektur lokal Sikka memiliki daya tarik tersendiri. Sebanyak 700 batang kelapa berdiri kokoh dan rapi di areal seluas 2 hektar.

    Perjalanan menuju Coconut Garden Beach (CGB) Maumere tidak sulit. Salah satu pusat pariwisata Maumere itu terletak di Kelurahan Waiara, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.

    Pengunjung hanya butuh waktu 20 menit dari pusat kota Maumere dengan kendaraan ke arah timur. Hanya saja, jalan setapak dari ruas jalan aspal menuju lokasi masih jalan tanah sehingga becek saat musim hujan.

    Lokasi itu ditata khusus untuk pengunjung yang datang berwisata, rapat instansi, dan menginap. Lokasi kawasan wisata itu mencakup areal seluas 2,5 hektar.

    Pohon-pohon kelapa dengan ketinggian 15-20 meter berdiri kokoh dan rapi dengan jarak teratur di sepanjang pantai.

    Delapan bungalo / Homestay dibangun membentuk lingkaran berdiameter sekitar 10 meter. Atap bungalo itu berbentuk kerucut menyerupai rumah adat Sikka. Satu bungalow merupakan satu unit kamar tidur, layaknya kamar hotel berbintang.

    Di depan kamar terdapat tiga kursi bambu dan dua tempat tidur ayunan dari keranjang di sebelah kiri dan kanan. Ketinggian bangunan sekitar 5 meter, berbentuk kerucut, dengan hiasan berbahan kulit kerang dan batu karang. Atap rumah terbuat dari belahan bambu.

    Hening

    Dua turis asing, Jumat (15/1/2016) siang, itu duduk membaca di depan teras kamar. Suasana hening dan sepi yang dipadu dengan lingkungan yang asri diminati wisatawan asing.

    Belasan pekerja yang merupakan warga sekitar tampak sedang membangun satu unit bangunan berukuran sekitar 10 meter kali 20 meter, berada di ujung kiri dari lokasi.

    Sesuai rencana, gedung itu akan dimanfaatkan untuk pusat kebugaran. Gedung itu juga mengikuti arsitektur lokal Sikka dengan atap menyerupai punggung kura-kura.

    Fransiskus Oktovianus (43), pekerja proyek, mengatakan, para pekerja di CGB mendapatkan pelatihan dari sejumlah arsitek dari Jakarta pada 2015.

    Saat itu mereka didatangkan khusus untuk membangun dua bungalo di pantai itu yang kemudian dilanjutkan pekerja-pekerja lokal.

    Arsitek memberi bimbingan dan pelatihan terhadap pekerja lokal sampai mereka mampu berkreasi sendiri. Kini, semua bangunan di pantai itu dikerjakan penduduk lokal.

    Manajer CGB Ahmad mengatakan, sekitar 25 karyawan yang bekerja di CGB berasal dari warga sekitar. Mereka digaji sesuai upah minimum daerah setempat. Namun, ada pula pekerja harian yang datang membantu saat jumlah tamu membeludak.

    Kawasan pantai dibangun menjadi pusat destinasi penting di Maumere sejak April 2015. Meskipun baru berusia sekitar 11 bulan, nama CGB tidak asing bagi masyarakat Maumere. Setiap hari selalu ada pengunjung datang ke lokasi itu.

    ”Meskipun baru, jumlah kunjungan setiap hari selalu ada. Turis asing rata-rata dua orang setiap hari. Turis asing menetap di delapan bungalo dengan masa tinggal rata-rata lima hari. Harga satu kamar bungalo / Homestsay Murah Rp 1.250.000 per malam, belum termasuk makan, minum, dan transpor,” kata Ahmad.

    Ia mengatakan, ke depan akan dibangun penginapan dua lantai dengan konstruksi dari bambu. Konstruksi bangunan yang ada disiapkan untuk rumah dua lantai.

    Menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung diutamakan pengelola CGB. Bahkan, setiap pagi hari ada petugas khusus memanjat setiap pohon kelapa untuk mengecek kondisi buah itu agar tidak jatuh.

    Pengelola CGB juga tetap menjaga dan merawat semua tanaman yang ada. Pengunjung pun diingatkan agar tidak merusak tanaman yang melengkapi keindahan pantai itu.

    ”Di sini juga ada fasilitas snorkeling dan perahu karet untuk pengunjung yang ingin melihat keindahan Taman Laut Teluk Maumere. Namun, kami belum punya perahu dilengkapi kaca tembus pandang yang dapat digunakan pengunjung untuk melihat atau memotret biota laut dari perahu itu,” kata Ahmad.

    Pemilik CGB adalah pihak swasta, tetapi pembangunan CGB tetap menghormati dan menghargai sejumlah kearifan masyarakat lokal.

    Maria Nurak (27), pengunjung CGB, mengatakan, sepanjang pantai di Teluk Maumere terdapat 17 unit lokasi yang didesain khusus untuk pengunjung. Lokasi wisata pertama dibangun adalah Sao Wisata, dan sejumlah tempat penginapan termasuk bungalow yang dibangun Pemkab Sikka.

    ”Masyarakat Sikka dan turis asing lebih suka datang ke CGB karena penataan lokasi ini unik. Mudah-mudahan pengelolanya terus memberi kesempatan kepada masyarakat untuk berwisata di sini,” kata Nurak. (KORNELIS KEWA AMA / Travel Kompas)