• Beredar Surat untuk Jokowi: "Coba bercermin, cocokkah Bapak jadi Presiden?"


    Beredar sebuah surat yang berisi pesan untuk Presiden Jokowi, pesan dalam surat ini menanggapi berita beberapa hari lalu tentang kedatangan Pak Jokowi ke Sumatera Barat yang tidak disambut dengan meriah, bahkan terkesan dicuekin masyarakat. 
     
     Berikut ini isi suratnya:
     Kepada Pak Joko Widodo yang saya hormati …

    Sungguh miris hati ini membaca berita dan komentar para netizen di media sosial. Apa salah seorang seperti Bapak, selaku pemimpin tertinggi di Indonesia ini? Namun saat Bapak mendarat di tanah Minang (Padang) tak ada sambutan meriah dari warga tersebut. Pun demikian halnya di Kota Bukittinggi, tempat lahirnya sang proklamator Mohammad Hatta.

    Apakah mereka lupa, di tanah kelahiranya pula banyak tokoh bangsa mengabdi kepada negara tercinta kita Indonesia. Sementara Bapak adalah seorang presiden, yang jelas akan diabadikan di arsip nasional sebagai tokoh bangsa. Ah … mereka sepertinya tidak sopan, ya, Pak?

    Eh … tapi kalau kita sebut orang Minang itu tak sopan, kita keliru, Pak. Sebab kunjungan presiden sebelumnya, yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Ani Yudhoyono disambut gegap gempita.

    Bahkan mendapat gelar kehormatan pula Pak SBY, yaitu: TUAN MAHA RAJO PAMUNCAK SARIALAM.

    Dan gelar kehormatan Ibu Ani, yaitu: PUAN PUTI AMBUN SARI.

    Nah, Bapak sendiri? Boro-boro dapat gelar dari Minang, disambut dengan senyum saja mungkin sudah senang ya, pak? Huh .. begitulah kenyataanya. Pahit memang. Semoga saja kejadian itu tidak dicatat sejarah. Karena kalau tercatat sejarah,  mungkin akan menjadi catatan fenomenal sepanjang sejarah Indonesia, dan mungkin juga dunia.

    Bapak Jokowi yang saya cintai dan hormati …
     
    Ada yang harus kita ketahui bersama, dan itu tidak hanya untuk Bapak seorang saja. Namun kepada seluruh pemimpin di pusat, maupun di daerah, dan sampai di tingkat pemerintahan terendah, yaitu Rukun Tetangga (RT). Berikut quote dari seorang pemuda: “Tanda-tanda kebencian yang begitu dalam dari rakyat adalah mendiamkan pemimpin (presiden) melintas di rumahnya”.

    Dengan begitu, kita tahu, Pak, warga Minang mungkin tidak suka terhadap Bapak, atau juga malah benci sekali. Semoga saja saya keliru menafsirkan sifat warga Minang di Padang dan di Bukittinggi.

    Pak Jokowi, bolehkah saya bertanya satu hal kepada Bapak? Dan mungkin ini juga adalah pertanyaan yang mewakili rakyat Indonesia, khususnya warga Minang. Bagaimana perasaan Bapak saat dicuekin warga Minang? Tapi saya mohon, jangan dijawab: cakitnya tuh di cini! (nunjuk dada).

    Surat ini saya tulis pukul 00:41 wib, di Jogjakarta. Saya sudah biasa tidur larut malam, Pak. Banyak yang saya pikirkan. Salah satunya negeri kita Indonesia. Apalagi akhir-akhir ini kerusakan hutan semakin parah saja, akibat dibakar oleh pengusaha. Sungguh, tindakan amoral itu membuat saya geram.

    Saya pecinta alam, suka mendaki gunung. Tentu saja tak rela hijaunya alam semesta kita dimusnahkan oleh ketamakan mereka. Bapak tahulah itu seharusnya! Dan semasa kampanye dulu, Bapak juga mendaki gunung Jaya Wijaya, kan? Itu artinya Bapak paham hakikat seorang pendaki, yaitu turut serta menjaga alam dan melestarikannya. Atau mungkin hanya pendaki abal-abal, ikutan trend anak alay yang suka buang sampah dan coret-coret di gunung?

    Tapi kenapa oh kenapa  … dibiarkan penjahat alam membakar hutan yang memakan banyak korban manusia? Kenapaaaaaaa?!

    Pak Joko Widodo yang saya cintai dan sedikit saya kagumi …

    Seharusnya Bapak sadar atas warga yang mulai tak menganggap Bapak ada. Coba bercermin, tanyakan pada hati nurani: masih cocokkah saya menjadi seorang presiden Indonesia?

    Mungkin nih, Pak, jika satu daerah begitu, bisa jadi daerah-daerah Indonesia lainnya mencuekin Bapak lho. Siapa yang malu coba? Bapak sendiri, kan? Secara presiden gitu lohhh.

    Hormat Saya

    Asmara Dewo

    [sumber: onlineindetv]