• Rights Issue dengan Rasio

    Rights Issue dengan Rasio
    Rights Issue dengan Rasio - Setiap perusahaan pasti dituntut untuk terus tumbuh dan berkembang serta menghasilkan laba atau profit sebesar-besarnya. Apalagi perusahaan terbuka yang sudah berstatus go public, milik masyarakat luas, tuntutan untuk selalu bisa mencetak laba besar merupakan hal yang sangat ditekankan.

    Dengan laba bersih yang tinggi, perusahaan bisa membagi dividen lebih besar terhadap pemegang saham sehingga semakin banyak investor yang memburu sahamnya di bursa. Dengan demikian harga saham di bursa juga ikut terdongkrak. Untuk bisa mencetak laba yang besar, emiten selalu berusaha melakukan ekspansi usaha, memperluas pasar, meningkatkan market share, membangun integrasi bisnis dari hulu hingga hilir dan seterusnya.

    Tidak jarang dalam rangka ekspansi usaha dan menggenjot pertumbuhan kinerja,perusahaan melakukan langkah strategis berupa akuisisi perusahaan lain. Berbagai langkah ekspansi, apa pun bentuknya, untuk meningkatkan kinerja itu membutuhkan biaya yang tidak kecil.

    Salah satu sumber yang sering kali diandalkan oleh emiten adalah menerbitkan dan menjual saham baru dari portepel yang ditawarkan melalui penawaran umum terbatas (rights issue). Pembiayaan melalui rights issue ini tidak terbatas hanya untuk kebutuhan ekspansi, tetapi juga sering kali dimanfaatkan untuk membayar utang dan atau memperkuat struktur modal emiten.

    Dalam dunia pasar modal, langkah rights issue merupakan hal yang sudah lazim dan banyak dilakukan emiten setiap kali ia membutuhkan dana besar. Bahkan, nilai emisi yang disedot dari investor melalui rights issue bisa lebih besar daripada nilai emisi yang disedot emiten melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

    Investor sama sekali tidak heran tentang hal ini. Bahkan, investor sering kali dibuat senang dengan aksi korporasi rights issue karena isu tentang right issue bisa mendongkrak harga saham si emiten di pasar. Meski begitu, bukan berarti setiap langkah rights issue yang digelar emiten selalu disambut gembira investor.

    Kadang-kadang investor merasa kurang nyaman dengan langkah rights issue yang dilakukan emiten, terutama rights issue yang digelar dengan rasio tanggung atau besar, misalnya 1 : 10 (baca: satu berbanding sepuluh) atau 1 : 20,6 : 7 atau sebaliknya.

    Perbandingan dengan notasi 1 : 10 berarti pemegang satu saham lama mempunyai hak (rights) terlebih dahulu untuk membeli 10 saham baru yang diterbitkan perseroan pada harga yang ditentukan. Pertanyaannya, mengapa rights issue dengan rasio tanggung dan besar membuat investor merasa kurang nyaman?

    Rights issue yang dilakukan dengan perbandingan rasio tanggung dan besar pada umumnya menimbulkan efek dilusi bagi investor ritel karena investor tidak berdaya untuk mengeksekusi. Menjual hak (rights) di pasar juga tidak memberi manfaat ekonomi yang signifikan bagi investor.

    Ilustrasinya begini. Misalkan saja PT ABCD Tbk membutuhkan dana segar untuk ekspansi sebesar Rp800 miliar. Adapun data perusahaan sebagai berikut: jumlah total saham 100 juta lembar, jumlah saham baru yang akan diterbitkan 1 miliar lembar dengan harga penawaran Rp800 per saham.

    Rights issue dilakukan dengan perbandingan 1 : 10 yang berarti pemegang satu saham lama berhak membeli 10 saham baru. Dengan perbandingan seperti itu, jika investor memiliki 1 lot saham, maka ia dituntut untuk menebus 10 lot saham baru. Jika investor memiliki 2 lot, ia harus mengeksekusi 20 lot saham, begitu seterusnya.

    Investor minimal harus membeli 10 lot saham. Dengan harga Rp800 per lembar, maka untuk menebus 10 lot saham, investor harus mengeluarkan uang Rp4 juta, begitu seterusnya. Dan jika investor memiliki 20 lot saham, jika tidak ingin terdilusi, ia harus mengeluarkan uang Rp80 juta untuk membeli saham baru sebanyak 200 lot.

    Rasio seperti ilustrasi di atas relatif tidak menimbulkan masalah bagi investor kecuali masalah ketersediaan dana. Jika investor tidak mau terdilusi, ia harus membeli saham baru yang ditawarkan. Investor bisa membatasi pembelian saham baru sesuai dengan dana yang dimiliki.

    Yang agak merepotkan jika rasionya tanggung, misalnya 5 : 2, artinya lima saham lama berhak membeli dua saham baru. Dengan perbandingan seperti itu investor hampir dipastikan akan mengalami dilusi (meskipun kecil) karena tidak bisa membeli saham baru sesuai dengan satu satuan lot.

    Untuk investor yang memiliki saham dengan jumlah kelipatan 5 tidak akan menemui masalah ,kecuali soal ketersediaan dana. Tapi jika investor memiliki saham di luar kelipatan 5, ia jelas akan menghadapi masalah. Gambarannya begini. Investor X memiliki saham ABCD sebanyak 24 lot atau 12.000 lembar.

    Jika rights issue dilakukan dengan rasio 5 : 2 maka investor X berhak membeli saham baru sebanyak 4.800 lembar. Dengan satuan lot, 4.800 lembar sama dengan 9 lot plus 300 lembar. Tampak ada kelebihan 300 lembar yang kurang dari 1 lot atau dikenal dengan istilah odd lot.

    Angka odd lot itu tentu akan membuat masalah bagi investor karena ia tidak bisa menjual di pasar reguler. Jika investor ingin mendapatkan saham dengan jumlah bulat dalam satuan lot, maka jumlah kepemilikan yang 24 lot tadi harus ditambah. Investor harus membeli saham 1 lot lagi sehingga menjadi 25 lot.

    Dengan begitu ia berhak membeli saham baru yang ditawarkan sebanyak 10 lot. Kasus-kasus rights issue dengan rasio tanggung cukup banyak terjadi di pasar. Bagi investor ritel–apalagi modalnya terbatas–,rasio yang tanggung seperti itu menjadi salah satu pertimbangan apakah ia akan membeli atau tidak saham rights issue yang diterbitkan emiten.

    Karena itu investor sebaiknya melakukan kalkulasi yang cermat terhadap kepemilikan sahamnya jika hendak menggunakan right-nya untuk membeli saham right issue. (*/Koran SI)