• Homestay, Peluang Bisnis Yang Punya Prospek Cerah

    Homestay, Peluang Bisnis Yang Punya Prospek Cerah
    Homestay, Peluang Bisnis Yang Punya Prospek Cerah - Bisnis homestay atau menyewakan rumah untuk menginap secara harian kini menjadi sebuah peluang bisnis yang sangat menarik. Caranya yang sangat sederhana, gampang dan menguntungkan membuat semakin banyak orang mencoba bisnis ini.

    Yang dibutuhkan hanyalah sebuah rumah cukup nyaman yang tidak Anda ditempati, selanjutnya meminjamkannya kepada orang lain dengan biaya atau tarif yang dihitung per hari.

    Sebenarnya prinsip bisnis homestay sama saja dengan mengontrakkan rumah, hanya saja durasi waktunya berbeda. Karena tarif homestay dihitung secara harian, tentu saja total akumulasi uang sewa yang diperoleh dalam setahun lebih menguntungkan daripada sewa-kontrak yang rata-rata minimal durasi sewanya 1 tahun.

    “Daripada tidak ditempati dan jadi sarang hantu lebih baik dikontrakkan.” Begitulah sikap pragmatis para pemilik rumah kontrak. Mereka tak mau direpotkan dengan urusan merawat atau menata rumah yang dikontrakkan, dan lebih memilih menerima tunai uang sewa di awal masa kontrak.

    Bahkan, mereka seringkali mengabaikan risiko kerusakan bangunan kendati kadangkala dana yang dibutuhkan untuk merenovasi malah lebih besar daripada uang sewa yang diterima. Inilah salah satu kesialan yang kadang dialami para pemilik rumah kontrak.

    Ini berbeda dengan bisnis homestay, di mana sang pemilik rumah memiliki motivasi dan orientasi pada income. Namanya saja bisnis, pendapatan yang sustain menjadi tujuan utama dari sang pemilik rumah.

    Bisnis yang baru berkembang di Indonesia ini, sebenarnya sudah lumrah di banyak negara. Mahasiswa dan pelajar Indonesia di luar negeri, sudah terbiasa tinggal di rumah penduduk setempat atau homestay dan berbaur bersama pemilik rumah yang biasa disebut host family. Biasanya mereka menetap cukup lama sekitar setahun atau bahkan selama masa studi.

    Suasana yang homy, serasa di rumah sendiri, dan ongkos yang murah menjadi alasan utama mahasiswa dan pelajar memilih homestay. Apalagi di luar negeri tidak ada sistem sewa kamar berupa kos-kosan seperti banyak bertebaran di sekitar kampus di mana pun di Tanah Air. “Kos-kosan” di luar negeri umumnya berupa fl at atau rumah susun yang tarifnya mahal.

    Penginapan ala homestay ini pun lantas diadopsi oleh kalangan agen perjalanan wisata untuk melayani tamu di wilayah destinasi yang belum terdapat hotel atau resort.

    Selama melancong, turis bisa tinggal beberapa hari di rumah penduduk, tentu dengan tarif harian. Sekarang, bisnis homestay kian berkembang, tidak melulu ada di lokasi dan destinasi wisata tetapi telah menjamur di wilayah urban, di tengah kota.

    Meskipun sekilas gampang dijalani, bisnis homestay sebenarnya butuh profesionalisme untuk mengelolanya, karena tamu yang datang menuntut layanan layaknya hotel, minimal standar layanan hotel melati: bed, breakfast and services.

    Pertanyaannya, apakah Anda memiliki waktu, tenaga dan pengalaman untuk menyiapkan kamar tidur yang nyaman, sarapan pagi yang lezat dan layanan lain seperti bersih-bersih dan menata kamar atau binatu dan cuci pakaian (laundry)?

    Jika tidak mau serepot itu, Anda tak perlu khawatir karena sekarang banyak pengelola jaringan hotel yang juga menggarap bisnis homestay. Mereka bekerja sama dengan para pemilik rumah yang disewakan secara harian—tentu dengan syarat-syarat tertentu—dan berbagi manfaat dengan sistem profit sharing. (bn)