• Penyakit yang Perlu di Waspadai Apabila Sering Nyeri Saat Haid

    Penyakit yang Perlu di Waspadai Apabila Sering Nyeri Saat Haid - Nyeri perut saat haid memang sering terjadi pada wanita. Saking seringnya, kondisi ini dianggap sebagai hal yang wajar dan normal terjadi setiap bulannya. Namun pada kondisi tertentu, nyeri haid bisa menjadi pertanda penyakit yang lebih serius.

    Nyeri haid atau kram menstruasi (dysmenorrhea) merupakan rasa sakit, nyeri berdenyut atau kram di perut bagian bawah yang terjadi sebelum dan selama periode menstruasi. Bagi beberapa wanita, haid tidak menimbulkan nyeri atau hanya nyeri biasa yang akan hilang setelah beraktivitas. Tapi bagi yang lain, nyeri haid bisa cukup berat hingga menganggu aktivitas selama beberapa hari setiap bulannya.

    Secara normal, selama haid rahim akan berkontraksi untuk membantu mengeluarkan lapisan yang meluruh berupa darah haid. Zat seperti hormon (prostaglandin) terlibat dalam rasa sakit dan peradangan yang memicu kontraksi otot rahim. Tingginya tingkat prostaglandin berhubungan dengan kram menstruasi yang lebih berat.

    Namun dalam kasus tertentu, kram menstruasi juga bisa menjadi gejala penyakit yang lebih serius.

    Berikut penyakit-penyakit yang perlu diwaspadai bila sering nyeri saat haid, seperti dilansir dari Mayoclinic, Selasa

    1. Endometriosis

    Endometriosis merupakan penyakit kronik di mana jaringan endometrium yang terdapat di dalam rahim (uterus) ditemukan tumbuh di tempat lain dalam tubuh. Jaringan ini membentuk lesi endometrium yang sangat sering ditemukan pada indung telur dan semua organ di dalam panggul wanita.

    Gejala umumnya adalah nyeri panggul kronis, nyeri menstruasi, nyeri saat bersanggama atau nyeri saat buang air besar. Yang paling khas adalah rasa sakit hebat di perut bagian bawah pada masa menstruasi. Maka itu, jangan pernah sepelekan nyeri perut saat sedang haid.

    "Paling banyak terjadi pada remaja. Apa tandanya? Saat menstruasi hari pertama sakit perut parah, guling-guling, mual muntah, sakit kepala. Tapi pada hari kedua ketiga dan keempat sudah hilang," jelas Prof. Dr. dr. Ali Baziad, SpOG(K), Kepala Divisi Endokrinologi Reproduksi, Departemen Ilmu Kebidanan dan Kandungan FKUI/RSCM, kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

    Menurut Prof Ali, rasa nyeri akibat endometriosis itu khas, di mana rasa nyerinya mendalam. Nyeri ini bisa terasa pada sehari sebelum menstruasi dan puncaknya pada hari pertama atau kedua menstruasi. Pada akhir menstruasi atau sesaat sesudahnya bisa juga terasa sakit lagi.

    Memang tidak semua rasa nyeri saat haid merupakan gejala endometriosis. Pada penderita endometriosis, nyeri haid biasanya terasa sangat menyakitkan, sampai-sampai tidak bisa hilang sebelum mengonsumsi obat pereda nyeri. Perlu diwaspadai juga ketika darah haid yang keluar sangat banyak dengan masa haid lebih panjang.

    2. Uterine fibroids

    Uterine fibroids merupakan pertumbuhan non-kanker di dinding rahim, yang juga dikenal dengan leiomyomas atau mioma. Uterine fibroids tidak berhubungan dengan peningkatan risiko kanker rahim dan hampir tidak pernah berkembang menjadi kanker.

    Gejala yang paling umum adalah perdarahan menstruasi berat, periode menstruasi berkepanjangan, tekanan atau sakit di panggul, sering buang air kecil, sembelit dan sakit punggung atau nyeri kaki.

    3. Adenomiosis

    Adenomiosis terjadi ketika jaringan endometrium yang biasanya ada di dalam rahim, ada di dalam dan tumbuh di dalam dinding otot rahim. Hal ini terjadi paling sering di akhir usia subur wanita.

    Adenomiosis berbeda dari endometriosis, meskipun wanita dengan adenomiosis sering juga memiliki endometriosis. Penyebab adenomiosis tetap tidak diketahui, tetapi penyakit ini biasanya menghilang setelah menopause. Bagi wanita yang mengalami ketidaknyamanan parah akibat adenomiosis, pengobatan tertentu bisa membantu, tetapi histerektomi adalah satu-satunya obat.

    Adenomiosis kadang-kadang tidak menimbulkan gejala, tapi dalam kasus lain bisa menimbulkan gejala seperti perdarahan menstruasi berat atau berkepanjangan, nyeri haid parah atau tajam, nyeri panggul seperti ditusuk pisau selama menstruasi (dismenore), kram menstruasi akan memburuk seiring bertambahnya usia, nyeri selama berhubungan seks.

    4. Pelvic inflammatory disease (PID) atau penyakit radang panggul

    Penyakit radang panggul atau yang dikenal dengan Pelvic inflammatory disease (PID) adalah infeksi pada organ reproduksi wanita. Hal ini biasanya terjadi ketika bakteri menular seksual menyebar dari vagina ke rahim dan saluran kelamin bagian atas.

    PID disebabkan oleh praktik seksual yang tidak aman yang meningkatkan kemungkinan untuk mengembangkan infeksi menular seksual (IMS). Praktik seksual yang tidak aman tersebut seperti seks tanpa kondom, atau bergonta-ganti pasangan yang dapat meningkatkan risiko penyakit radang panggul.

    Gejalanya antara lain nyeri pada perut bagian bawah dan panggul, keputihan berat dengan bau yang tidak menyenangkan, menstruasi tidak teratur, nyeri selama berhubungan seksual, nyeri punggung, demam, kelelahan, diare atau muntah, serta nyeri atau sulit buang air kecil.

    5. Cervical stenosis

    Cervical stenosis atau stenosis serviks terjadi bila kondisi pembukaan serviks begitu sempit sehingga cenderung membatasi aliran menstruasi. Gejala yang paling umum adalah menstruasi tidak teratur dengan kram parah pada menstruasi sebelumnya.