• Sepi, Omset Pedagang Telihan Anjlok 90 Persen

    Rendahanya animo warga belanja ke pasar Taman Telihan di Bontang Barat, berdampak serius pada kelangsungan usaha pedagang di pasar semi modern tersebut. Sejumlah pedagang sembako yang ditemui mengaku mengalami penurunan omset secara drastis. Salah satunya Imam, pedagang sembako yang menempati blok lantai dasar pasar Telihan, mengaku kehilangan omset hingga 90 persen. Sebelumnya, saat kondisi pasar Telihan masih berupa pasar tradisional yang becek dan kumuh, Ia mengaku bisa membukukan omset hingga Rp 500.000- Rp 1.000.000 per hari. Namun sejak pasar tersebut dibangun ulang dengan konsep semi modern Ia mengaku maksimal bisa membukukan omset Rp 100.000. "Kalau dibandingkan dengan pasar lama, jauh lebih menguntungkan. Sekarang bangunan saja yang mewah tapi hasilnya tambah turun," ujar Imam.

    Penurunan omset penjualan ini kata Imam, hampir merata dialami oleh para pedagang Sembako yang menempati kios permanen di bagian depan pasar. Bahkan tidak sedikit pedagang yang terpaksa menutup kiosnya lantaran tidak sanggup menanggung kerugian yang berkepanjangan. "Bisa dilihat sendiri, banyak kios yang tutup. Itu bukan karena mereka tidak mau jualan, tapi memang kondisi pasar yang sepi, makanya terpaksa tutup," katanya.
    Kondisi ini sudah berlangsung sejak pasar Taman Telihan diresmikan awal 2011 silam. Para pedagang hanya bisa menikmati limpahan pengunjung pada momen tertentu, seperti tahun bulan puasa, lebaran, dan tahun baru.

    Selebihnya, harus bersyukur jika bisa menerima 10 konsumen per hari. "Hampir semua pedagang Sembako mengalami nasib sama, kecuali para pedagang pasar basah yang berjualan ikan, daging dan sayur-mayur dibagian belakang pasar dengan desain terbuka relatif masih normal," paparnya.

    Ia mengungkapkan, keluhan para pedagang sebenarnya sudah lama sudah seringkali disampaikan kepada pihak pengelola pasar. Sejumlah terobosan juga sudah dilakukan seperti mengatur penempatan lahan parkir, termasuk memberi ruang kepada pedagang kuliner jualan di parkiran depan pasar, namun tetap tidak banyak membantu. "Makanya kami juga tidak tahu harus gimana. Jadi sabar aja namanya berusaha," tandasnya.
    tribunkaltim.co.id --