• Kawanku, Sang Pecundang!

    Kawanku, Sang Pecundang!

    dan haruskah ku katakan kita sudah kalah kawan?
    lalu aku pun meninggalkan lahan yang pernah kita garap ini?
    sementara jejak-jejak langkah kita masih di jalur kemenangan?
    pohon-pohon cinta yang pernah kita tanam belum jua berbuah kisah
    cerita kita tentang hari esok baru sampai di ujung telinga para petani
    :ah … kau, aku dan mereka bukannya petani?

    kawanku,
    kau dimana?
    aku disini menunggumu di pematang sawah
    memandangi kerbaumu yang ditelanjangi hujan
    kecambah tanaman padimu yang kian menguning
    begitu juga dengan cangkulmu yang sudah berkarat


    kawanku,
    kau dimana?
    tahukah kau,
    aku di sini baru saja memanah jatuh purnama
    membiarkan kunang-kunang terbang menyusuri jejak-jejakmu
    ku harap,
    kau disana tidak tersesat di antara lorong senja dan gelapnya malam

    kawanku,
    kau dimana?
    ayo cepat kesini !
    aku telah memesan makanan untukmu
    bukankah sebagai petani kita juga butuh makanan?
    walau pun hanya sisa panen yang bisa kita cicipi bersama

    (puisiku diam. aku melahap menu makanan di sudut kota tanpa kerbau dan cangkul. gedung-gedung dengan angkuhnya berdiri kokoh di sampingku. kulihat kawanku melambaikan tangan dari lantai teratas gedung itu. tangan kirinya memegang bendera sebuah partai)
    :hei, kawanku,
    sekarang kau sudah menjadi petani golongan?”, teriakku dari bawah gedung itu

    puisiku hanya diam
    anggan-anganku berlari mencari cermin seribu bayang
    tepat di depan bangunan idealisme
    langkah anganku berhenti
    disana,
    ku temukan bayangan kawanku menyendiri
    “aku kalah dari satu kenyataan“, tutur bayangan itu di iringi tangis
    _
    :oh ya?,
    ah, aku benci air mata seorang pecundang!

    ______
    ______________________

    Puisi ini untuk para Caleg Muda yang hari ini hanya mempertontonkan diri di gedung DPR tanpa aksi dan kerja nyata untuk perubahan negeri ini.